Dolar AS menguat ke level tertinggi tiga bulan pada perdagangan awal Asia Rabu (4 Maret 2026), sementara investor menarik diri dari euro akibat konflik memanas di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran kenaikan harga energi berkelanjutan.
Euro Terpuruk, Inflasi Zona Euro Memburuk
Euro anjlok 0,1% ke US$1,1604, memperpanjang penurunan hingga hari ketiga dan menyentuh level terlemah sejak akhir November. Penurunan ini dipicu data Selasa (3 Maret) yang menunjukkan inflasi zona euro Februari naik lebih tinggi dari perkiraan, tepat sebelum eskalasi konflik Iran.
"Dampak perang Iran terhadap EUR/USD intinya satu: energi," ujar George Saravelos, Kepala Riset Valuta Asing Global Deutsche Bank. "Guncangan pasokan negatif ini seperti pajak langsung bagi warga Eropa, dibayar dalam dolar ke produsen asing."
Pasar Berbalik, Minyak dan Gas Melonjak
Pasar keuangan berbalik tajam pada Selasa setelah bombardir Israel-AS terhadap target Iran, mendorong investor ke aset aman. Harga minyak dan gas global meroket karena perang menghentikan ekspor Timur Tengah—serangan Teheran menutup navigasi Teluk, melumpuhkan produksi dari Qatar hingga Irak.
Brent crude naik 5,4% menjadi US$81,96 per barel (tertinggi sejak Juli 2024); kenaikan kumulatif 12% sejak Jumat.
Harga gas Eropa melonjak 70% sejak akhir pekan.







