Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan terbuka terhadap kenaikan suku bunga untuk mengatasi inflasi yang masih di atas target 2%. Pemicunya adalah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang memanas.
"Beberapa peserta menilai ada alasan kuat untuk menyertakan deskripsi dua arah pada keputusan suku bunga FOMC ke depan dalam pernyataan pasca-rapat. Hal ini mencerminkan kemungkinan penyesuaian ke atas kisaran target suku bunga dana federal jika inflasi tetap di atas target," tulis risalah yang dirilis pada Rabu (8 April 2026).
Pada rapat Maret, Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, setelah serangkaian pemangkasan sejak 2024. Meski begitu, bahasa pernyataan dirancang untuk menyiratkan pelonggaran lebih lanjut jika kondisi memungkinkan.
Dampak Konflik Timur Tengah
Konflik AS-Israel-Iran yang pecah akhir Februari memicu kenaikan harga minyak lebih dari 50%. Akibatnya, proyeksi inflasi 2026 direvisi menjadi 2,7%, sambil mengancam ekspektasi inflasi jangka panjang.
"Banyak peserta mencatat risiko inflasi tinggi yang berlangsung lebih lama akibat harga minyak yang persisten. Biaya input yang lebih tinggi kemungkinan akan berlalu (pass-through) ke inflasi inti," sebut risalah. Risiko ini juga memperlambat kemajuan menuju target inflasi 2%.
Staf Fed memperkirakan pertumbuhan PDB tetap sejalan dengan potensi ekonomi, dengan tingkat pengangguran stabil sekitar 4,4%. Namun, risiko downside terhadap lapangan kerja meningkat akibat konflik yang berpotensi berkepanjangan.
Risiko Dua Arah dan Prospek Kebijakan
Sebagian besar peserta masih memandang pemangkasan suku bunga sebagai skenario dasar (baseline), terutama jika konflik menekan pertumbuhan ekonomi, mengurangi daya beli rumah tangga, dan memperketat kondisi keuangan.
Namun, mayoritas menyoroti risiko upside pada inflasi dan downside pada lapangan kerja yang semakin nyata. Situasi ini membuat Fed harus tetap lincah (nimble): siap menaikkan suku bunga jika inflasi terbukti persisten.
Reaksi Pasar
Pasar saham langsung menguat setelah rilis risalah yang bersifat hawkish. Kenaikan ini didorong harapan gencatan senjata AS-Iran dalam dua minggu, yang menekan harga minyak ke sekitar US$92 per barel (turun lebih dari 15%).
Pedagang futures mengurangi taruhan pemangkasan suku bunga akhir 2026, meskipun probabilitas kenaikan tetap rendah—sekitar 30% untuk awal 2027 berdasarkan harga opsi.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data PCE hari ini (9 April), CPI Jumat (11 April), serta rapat FOMC 28-29 April. Kedua rilis ini akan memberikan pembaruan bahasa kebijakan di tengah volatilitas geopolitik yang tinggi.







