Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austin Goolsbee, menyatakan pada Senin (23 Maret 2026) bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga jika inflasi memburuk akibat perang di Timur Tengah, atau melanjutkan pemotongan jika kondisi terkendali.
"Kita bisa kembali ke lingkungan dengan beberapa pemotongan suku bunga tahun ini jika inflasi terkendali," ujar Goolsbee dalam wawancara CNBC. "Namun, saya dapat melihat kondisi di mana kita perlu menaikkan suku bunga jika inflasi menjadi tidak terkendali."
Prioritas Inflasi di Atas Lapangan Kerja
Goolsbee menekankan bahwa indikator ekonomi AS saat ini lebih dekat ke kondisi lapangan kerja penuh daripada target inflasi 2%. Oleh karena itu, pengendalian inflasi menjadi prioritas utama kebijakan moneter.
Pasar Pricing Kenaikan Suku Bunga
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75% pada pertemuan minggu lalu, dengan sinyal satu pemotongan di 2026. Namun, pasar kini meng precising peluang kenaikan suku bunga yang lebih besar. Kontrak fed funds futures menunjukkan probabilitas hike di 2026 melebihi pemotongan, dipicu lonjakan harga minyak akibat perang Iran yang memasuki minggu ketiga.
Satu pembuat kebijakan Fed bahkan memproyeksikan kenaikan suku bunga tahun depan—pertama dalam 2,5 tahun—yang menyimpang dari konsensus FOMC Desember. Meski mayoritas anggota FOMC masih mengantisipasi pemotongan, premi risiko energi dari konflik kini cepat mengubah ekspektasi pasar.
Implikasi bagi Trader Emas
Sinyal hawkish dari Fed, ditambah kerusakan infrastruktur gas Iran (dilaporkan Fars News), menciptakan tekanan ganda pada harga emas. Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding, sementara inflasi energi membatasi aliran safe-haven. Trader disarankan memantau data PMI Jerman dan Zona Euro hari ini untuk konfirmasi tren lebih lanjut.







