Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan ancaman menghancurkan pembangkit listrik terbesar di negara tersebut jika gagal. Eskalasi ini berpotensi melumpuhkan lalu lintas minyak hingga 20% pasokan dunia, mendorong harga minyak Brent menembus $112$112 per barel.
Eskalasi Ultimatum Trump
Trump mengumumkan via Truth Social pada Sabtu malam (21 Maret 2026): AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam. Pernyataan ini melanjutkan nada Jumat lalu, di mana ia menyatakan akan mengakhiri operasi militer AS di Timur Tengah dan menyerahkan tanggung jawab ke negara importir minyak. Iran membalas dengan ancaman penutupan permanen selat bagi kapal "musuh".
Dampak Pasar Energi
Penutupan selat berisiko mengganggu pengiriman minyak dan gas secara masif. Harga Brent ditutup $112,19$112,19 per barel pada Jumat (20 Maret), naik 3,26% harian dan 56,93% bulanan. Pada Senin (23 Maret), Brent naik tipis ke $112,42$112,42 per barel meski volatilitas tinggi. Departemen Keuangan AS memberikan waiver sanksi 30 hari untuk penjualan minyak Iran via tanker (stok 140 juta barel)—ketiga kalinya dalam dua minggu—untuk meredam lonjakan harga.
Serangan Timbal Balik Israel-Iran
Konflik memanas: Israel menyerang ladang gas South Pars (terbesar dunia, dibagi dengan Qatar) pada Rabu lalu. Iran membalas dengan menargetkan fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar (20% pasokan gas global) dan meluncurkan rudal ke pangkalan AS-Inggris di Diego Garcia (jarak 4.000 km, gagal tembus). Pada Sabtu, Iran menembakkan rudal ke Dimona (dekat fasilitas nuklir Israel) dan Arad, menyebabkan 47+ luka serta rusak parah tiga bangunan; Israel langsung membalas.
Risiko Politik dan Global
Konflik memasuki pekan keempat, menimbulkan risiko politik bagi Trump jelang midterm delapan bulan lagi—meski AS catat produksi minyak rekor. Sekutu NATO menolak bantu membuka selat, yang disebut Trump sebagai "pengecut". Menteri Pertahanan Israel Katz berjanji tingkatkan operasi gabungan, sementara Trump mendesak Israel hentikan serangan ke aset energi. Pasar tetap tegang, dengan potensi disrupsi rantai pasok global.







