Ekonomi China mencatat pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama 2026, didorong ekspor tangguh dan belanja domestik yang resilien. Data resmi Produk Domestik Bruto (PDB) yang dirilis Badan Statistik Nasional pada Kamis (16 April 2026) menunjukkan laju ekspansi di atas konsensus pasar.
Performa PDB dan Penggerak Utama
PDB China melonjak 5% secara tahunan (year-on-year), melampaui ekspektasi 4,8% dan lebih tinggi dari 4,5% pada kuartal IV 2025. Secara kuartalan (quarter-on-quarter, sa), pertumbuhan mencapai 1,3%, sedikit di bawah proyeksi 1,4% tapi unggul dari 1,2% periode sebelumnya.
Liburan Tahun Baru Imlek menjadi penopang musiman, dengan belanja konsumen yang kuat. Inflasi produsen yang membaik turut mendukung aktivitas, meski kelebihan kapasitas manufaktur tetap menjadi ancaman. Ekspor mendominasi setelah melonjak pada Januari-Februari, berkat pencabutan tarif AS via putusan Mahkamah Agung akhir 2025. Namun, momentum ekspor mulai melambat menjelang akhir kuartal.
Target Tahunan dan Kebijakan Pemerintah
China menargetkan PDB 4,5–5% sepanjang 2026—target terlemah sejak 1991. Data Q1 menempatkan laju di ujung atas target ini, sejalan dengan rata-rata lima tahun terakhir. Pemerintah berkomitmen dukungan fiskal melalui belanja infrastruktur, layanan publik, serta stimulus konsumsi swasta dan tabungan rumah tangga.
Tanda-tanda Pelemahan dari Data Pendukung
Meski PDB kuat, indikator lain menandakan perlambatan:
Produksi industri Maret: +5,7% YoY (vs ekspektasi 5,4%, turun dari 6,3% Februari).
Investasi aset tetap: +1,7% YoY (vs 1,9%, turun dari 1,8%).
Penjualan ritel: +1,7% YoY (vs 2,4%, turun dari 2,8%).
Pengangguran: Naik ke 5,4% (vs ekspektasi 5,2%, dari 5,3%).
Data ini mengisyaratkan tantangan ke depan, meski fondasi pertumbuhan tetap solid.







