harga-minyak-naik-iran-tolak-proposal-as-akhiri-perang.jpgSumber Foto: sumbarbisnis.com

Harga Minyak Naik Karena Iran Menolak Proposal AS Untuk Mengakhiri Perang

berita

radityo - octaNews

26 Mar 2026 12:02 WIB

Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Asia, Kamis (26/3/2026), di tengah pernyataan bertentangan soal kemungkinan de-eskalasi konflik Timur Tengah. Iran dikabarkan sedang meninjau proposal Amerika Serikat berisi 15 poin untuk mengakhiri permusuhan, meski belum memberikan tanggapan resmi. Pada 00:31 GMT, kontrak Brent untuk pengiriman Mei naik 0,8% menjadi US$103,02 per barel (update terbaru: US$103,35, +1,1%). Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April menguat 1% ke US$91,20 per barel (update: US$91,40, +1,2%). Kenaikan ini memulihkan penurunan lebih dari 2% pada Rabu kemarin.

Sinyal Diplomatik yang Campur Aduk dari Teheran

Pasar sedang menimbang sinyal diplomatik dari Teheran. Pejabat Iran menyatakan sedang memeriksa proposal AS, yang memicu harapan hati-hati akan de-eskalasi. Namun, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menekankan perbedaan mendasar yang masih besar. Ketidakjelasan ini membuat para trader tetap gelisah, meski ada optimisme sementara.

Volatilitas Dipicu Konflik di Teluk

Fluktuasi harga minyak telah berlangsung berminggu-minggu akibat gangguan aliran energi di Teluk Persia, yang menyumbang sekitar 20% pasokan global. Brent sempat menembus US$119 per barel di awal Maret karena kekhawatiran penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima minyak dunia. Pada Rabu, harga anjlok setelah laporan kemajuan negosiasi mengurangi premi risiko geopolitik. Kini, harga rebound setelah Iran mengusulkan balasan atas 5 poin proposal AS, termasuk isu ganti rugi dan kedaulatan Hormuz.

Pihak AS mengawasi ketat, dengan ancaman tindakan keras jika Iran tidak konstruktif. Presiden Trump menyebut diskusi sedang berlangsung sambil mengerahkan 3.000 pasukan dari Divisi 82nd Airborne. China mendorong Iran untuk bernegosiasi, sementara survei Deutsche Bank memprediksi gencatan senjata pada April. Namun, normalisasi lalu lintas Hormuz diproyeksikan memakan waktu lama, dengan Brent bertahan di kisaran US$100 untuk beberapa bulan ke depan.

Implikasi bagi Pasar Global

Volatilitas ini menekan saham-saham stabil, dengan futures S&P 500 berada di sekitar 6.639 poin. Sebaliknya, aset safe-haven seperti emas dan perak justru menguat. Reserve Bank of Australia (RBA) memperingatkan potensi inflasi energi global. Ancaman penutupan Hormuz bisa mendorong harga melonjak di atas US$120 per barel lagi—para pelaku pasar disarankan memantau perkembangan dari mediator seperti Pakistan dan Turki.

Secara keseluruhan, ketegangan ini menandakan pasar minyak yang rentan terhadap berita geopolitik, dengan potensi dampak luas pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.

Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.