Harga emas kembali tertekan pada sesi perdagangan Asia Senin ini, menyusul kegagalan pembicaraan perdamaian AS-Iran akhir pekan lalu. Logam mulia ini anjlok ke level $2.634 per troy ounce, terhimpit oleh lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi. Hal ini mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) dan bank sentral utama lainnya.
Analisis Fundamental
Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang krusial menunjukkan inflasi Maret melonjak lebih tinggi, didorong kenaikan harga minyak mentah akibat konflik Timur Tengah. Data ini semakin menghambat rencana Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Risalah pertemuan FOMC 17-18 Maret, dirilis Rabu lalu, mengonfirmasi sikap hati-hati para pejabat di tengah risiko inflasi dari guncangan harga energi.
Ketegangan di Selat Hormuz turut menguatkan Dolar AS (USD), yang secara historis menekan harga emas. Sementara itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang potensi serangan terbatas ke Iran bertujuan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan dan memenuhi tuntutan utama Washington.
Analisis Teknikal
Pada penutupan Jumat, emas terkoreksi ke $2.630 per ounce dengan tren netral. Tekanan jual muncul pasca kegagalan negosiasi AS-Iran dan CPI AS yang lebih panas dari ekspektasi.
Resistance: $2.720 (terbatas naik); jika tembus, potensi rally ke $2.750–$2.795.
Support: $2.634 (uji utama), $2.600, hingga $2.554.
Prediksi Senin: Emas bergerak dalam rentang $2.750–$2.600, dengan bias bearish kecuali ada de-eskalasi geopolitik.
Kesimpulan
Emas rentan terhadap kombinasi inflasi AS, penguatan USD, dan risiko geopolitik. Pantau CPI lanjutan dan pernyataan Fed untuk sinyal selanjutnya.







