Harga emas terkoreksi tajam di bawah level $5.100 pada sesi awal perdagangan Asia Jumat ini. Penurunan ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY), meskipun konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan gas, yang memicu kekhawatiran inflasi baru. Gejolak geopolitik, khususnya serangan Iran di Teluk Persia, membantu membatasi laju penurunan logam mulia ini.
Analisis Fundamental
Fokus pasar hari ini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) untuk Februari, yang dirilis Jumat sore. Lonjakan harga minyak dan gas akibat konflik Timur Tengah membuat trader mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Federal Reserve (The Fed). "Volatilitas terkini bukan berarti permintaan emas sebagai aset safe-haven melemah," ujar analis Morgan Stanley. "Penurunan ini lebih didorong oleh dolar AS yang menguat dan investor yang mencari likuiditas."
Iran menggelar serangan rudal dan drone baru di seluruh Teluk Persia pada Kamis malam, menargetkan Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan Teheran belum meminta gencatan senjata dan tak berniat bernegosiasi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan mengancam akan meningkatkan intensitas serangan dalam beberapa hari ke depan, yang berpotensi memperkuat peran emas sebagai lindung nilai.
Analisis Teknikal
Pada perdagangan Kamis, harga emas terkoreksi menguji support $5.051/ons akibat penguatan dolar AS. Namun, gejolak geopolitik membatasi penurunan lebih lanjut. Secara potensial, emas bisa rebound menguji resistance di $5.081, $5.150, hingga $5.205. Di sisi lain, support kuat berada di $5.050, $4.996, dan $4.958. Secara keseluruhan, emas diprediksi bergerak dalam tren bullish di rentang $5.050–$5.205, dengan volatilitas tinggi dipengaruhi data AS dan eskalasi Timur Tengah.







