Pasar saham Wall Street ditutup turun drastis pada Senin (23/2/2026) karena kekhawatiran disrupsi AI di sektor keuangan serta ketidakpastian tarif impor pasca-putusan Mahkamah Agung AS. Penurunan ini diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan badai salju yang melumpuhkan wilayah Timur Laut AS, membatalkan 89-98% penerbangan di New York City.
Penyebab Utama Penurunan
Investor ramai menjual saham berisiko tinggi akibat laporan Citrini Research yang memperingatkan biaya tinggi dan dampak disrupsi AI terhadap perusahaan perangkat lunak serta sektor keuangan. Selain itu, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana tarif sementara 15% pada impor dari semua negara sebagai respons atas putusan Mahkamah Agung (6-3) Jumat lalu yang menyatakan ia melanggar undang-undang darurat ekonomi dalam memberlakukan tarif timbal balik.
Performa Sektor dan Aset Safe Haven
Sektor keuangan anjlok 3,3% karena kekhawatiran AI dan kredit konsumen, sementara perangkat lunak turun 4,3% dengan AppLovin (-9,1%) dan Intuit (-5,5%). Maskapai penerbangan dan perjalanan merosot 3,8%, Dow Transports -2,9%; sebaliknya, kesehatan naik 1,2% (Eli Lilly +4,9%) dan barang konsumsi pokok menguat. Emas melonjak 2,6% menjadi aset safe-haven di tengah gejolak.
Analis dan Data Pasar
Tom Hainlin dari U.S. Bank menyatakan pasar sedang "jual dulu, nilai kemudian" terkait AI dan tarif. Musim laba Q4 S&P 500 hampir usai dengan 73% perusahaan melebihi estimasi (proyeksi laba +13,9%); Nvidia, Home Depot, dan lainnya melapor minggu ini. Volume perdagangan NYSE mencapai 18,39 miliar saham (di bawah rata-rata), dengan rasio turun-naik 2,2:1.







