Banyak pembuat kebijakan Bank of Japan (BOJ) menilai perlunya melanjutkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang terus meningkat, dengan beberapa mendesak tindakan tepat waktu. Hal ini terungkap dalam catatan rapat Januari 2026 yang dirilis Rabu ini (25 Maret 2026). Sikap hawkish ini bahkan muncul sebelum perang Iran memicu lonjakan harga minyak global.
Mereka juga menekankan kewaspadaan lebih tinggi terhadap dampak pelemahan yen terhadap inflasi. Faktor ini kini semakin signifikan karena perusahaan Jepang lebih agresif meneruskan biaya impor dan kenaikan upah ke konsumen. "Mengatasi kenaikan harga adalah prioritas mendesak di Jepang; BOJ tak boleh menunda kenaikan suku bunga berikutnya," tegas salah satu anggota dewan pengurus.
Bias Hawkish dan Siklus Upah-Harga
Anggota lain menyerukan kenaikan suku bunga secara bertahap setiap beberapa bulan untuk menekan pelemahan yen yang memicu inflasi impor. Mekanisme upah-harga yang moderat semakin mengakar, didukung proyeksi negosiasi gaji 2026 yang solid di berbagai sektor industri.
Inflasi inti mendekati target 2% BOJ, meskipun faktor insidental seperti subsidi pemerintah sempat menekan CPI keseluruhan. BOJ menyarankan fokus pada tren upah, harga jasa, dan ekspektasi inflasi jangka panjang. Bank sentral ini yakin bahwa tarif perdagangan AS serta kenaikan suku bunga sebelumnya (hingga 0,75% pada Desember 2025) tidak menghambat pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Suku bunga ditahan pada Januari dan Maret 2026, dengan proyeksi inflasi inti sebesar 1,9% untuk FY2026.
Tantangan Geopolitik dan Strategi Komunikasi
Konflik Timur Tengah sejak 28 Februari 2026 telah mendorong harga minyak melonjak, menambah tekanan inflasi sambil memperlambat aktivitas impor di Jepang yang bergantung pada energi luar. Inflasi inti sempat turun ke 1,6% pada Februari berkat subsidi sementara. Beberapa anggota dewan mengusulkan peningkatan komunikasi mengenai inflasi inti dan konsep suku bunga netral—langkah yang mulai terealisasi melalui rilis indikator baru pada Maret.
Pasar kini memperkirakan 60% peluang kenaikan suku bunga pada April 2026, sejalan dengan tekad BOJ untuk normalisasi moneter di tengah risiko energi global yang tak terduga.







