Otoritas AS melakukan "pengawasan kurs" secara proaktif pada Januari untuk mendukung yen Jepang dan siap melakukan intervensi bersama jika diminta Tokyo, kata Nikkei pada Selasa (mengutip sumber pemerintah AS anonim). Federal Reserve Bank New York, atas nama Departemen Keuangan AS, menjalankan pengawasan ini tanpa permintaan dari Kementerian Keuangan Jepang (MoF), dipimpin Menteri Keuangan Scott Bessent karena khawatir ketidakpastian politik pra-pemilu Jepang mengguncang pasar global.
Langkah Awal Intervensi
Pengawasan ini merupakan tahap pertama menuju potensi intervensi pembelian yen, dengan AS bersedia bertindak jika Tokyo meminta bantuan. Seorang pejabat AS menyatakan: "Prinsip kami adalah menstabilkan sekutu melalui kekuatan ekonomi." Baik MoF Jepang maupun Treasury AS enggan berkomentar terkait laporan Nikkei.
Fed New York mengonfirmasi telah meminta kuotasi USD/JPY kepada dealer primer bulan lalu—langkah tidak biasa yang memperkuat yen yang lemah dan memicu spekulasi intervensi gabungan AS-Jepang pertama dalam 15 tahun.
Pergerakan Yen
Yen sempat anjlok mendekati level 160 per dolar AS (batas psikologis kunci), tetapi melonjak lebih dari 1% menjadi 152,10 (tertinggi dalam 3 bulan) setelah berita pengawasan ini muncul. Pada pagi Selasa di Asia, yen berada di sekitar 154,60 per dolar. Bessent membantah adanya intervensi bulan lalu, sementara Jepang tetap bungkam soal aksi independennya.
Dampak Ekonomi
Yen yang lemah memicu inflasi impor dan meningkatkan beban hidup rumah tangga Jepang, menjadi isu krusial bagi pembuat kebijakan di Tokyo. Langkah AS ini menandakan koordinasi lebih erat untuk mencegah volatilitas yen mengganggu stabilitas keuangan global.







