Emas telah membingungkan banyak investor belakangan ini. Meski kekuatan dolar AS menjadi faktor utama penurunan kinerjanya, logam mulia ini gagal menguat sejak awal April bahkan ketika dolar melemah. Permintaan dari bank sentral tetap kuat—survei menunjukkan pembelian akan berlanjut—dan imbal hasil riil tidak meningkat. Namun, emas terus melemah, kemungkinan besar akibat penjualan di Timur Tengah untuk kebutuhan likuiditas tunai.
Ulasan Analisis Fundamental
Harga emas turun mendekati $4.680 per ounce pada sesi awal Asia Senin (27 April 2026). Penurunan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana perjalanan dua pejabat ke Pakistan untuk pembicaraan perang Iran. Pasar memperkirakan Federal Reserve (Fed) akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada konferensi pers mendatang.
Harga emas anjlok di bawah $4.700 karena perundingan perdamaian Iran terhenti. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan memasuki "negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade." Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk "menyerang secara agresif" target Hizbullah di Lebanon, menurut BBC. Pedagang kini memantau konferensi pers Fed untuk petunjuk tentang dampak biaya energi terhadap pandangan suku bunga.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada perdagangan Jumat lalu, harga emas tertekan ke level $4.657 per ounce. Pasar terus memantau perkembangan gencatan senjata di Timur Tengah. Di sesi Asia pagi ini, emas naik terbatas dengan resistance utama di $4.735, $4.755, hingga $4.802.
Penurunan harga menguji support $4.655 per ounce; jika tertembus, berpotensi turun ke $4.620 dan $4.600. Untuk hari Senin, emas diprediksi bergerak dalam range $4.735 hingga $4.620.







