Pasangan USD/JPY bergerak sedikit turun mendekati level 158,85 pada sesi awal perdagangan Asia hari Kamis (12 Maret 2026). Yen Jepang (JPY) menguat tipis terhadap Dolar AS (USD), didorong oleh permintaan aset aman akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Trader juga menanti rilis data Klaim Pengangguran Awal AS pukul 19:30 WIB, yang bisa memengaruhi sentimen pasar.
Eskalasi Konflik Iran-Israel
Iran melancarkan "operasi paling intensif sejak awal perang," dengan upaya gencar menghalangi lalu lintas di Selat Hormuz—jalur krusial yang mengalirkan 20% pasokan minyak global. Militer AS menolak memberikan eskorta untuk kapal tanker atau kapal sipil hingga ancaman tembakan dari Iran mereda. Sementara itu, Israel merespons dengan "gelombang serangan skala besar" terhadap infrastruktur Hizbullah di Lebanon.
Ketegangan antara Iran dengan AS, Israel, dan negara tetangga berpotensi mendorong penguatan JPY lebih lanjut, sehingga menekan USD/JPY dalam jangka pendek.
Data Ekonomi AS Terbaru
Data CPI AS untuk Februari menunjukkan kenaikan 0,3% MoM (sesuai ekspektasi, dari 0,2% sebelumnya); CPI inti naik 0,2% MoM (dari 0,3% prior, juga sesuai perkiraan). Meski stabil, kenaikan harga minyak akibat konflik berpotensi memicu inflasi lebih tinggi ke depan.
Outlook Fed dan Dampak Minyak
The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 18 Maret mendatang. Trader kini memantau CPI Maret serta dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi. Saat ini, Brent crude telah melonjak ke $82 per barel, memperkuat tekanan risk-off yang menguntungkan JPY sebagai safe-haven.
Secara keseluruhan, USD/JPY berisiko turun ke level support 158,00 jika ketegangan geopolitik berlanjut, meski data klaim pengangguran AS yang kuat bisa membatasi penurunan.







