Analis perbankan Australia ramai-ramai memprediksi kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) pada pertemuan 16-17 Maret 2026 mendatang. Pernyataan hawkish dari Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser mengenai risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan Timur Tengah mendorong pasar mengantisipasi kenaikan 25 basis poin (bp), dengan probabilitas mencapai 70%.
Pernyataan Kunci Hauser
Pada Selasa (10 Maret 2026), Hauser memperingatkan volatilitas harga minyak yang dipicu ketegangan geopolitik Iran sebagai "tantangan nyata" bagi target inflasi RBA di kisaran 2-3%. Ia menekankan bahwa respons bank sentral akan bergantung pada durasi guncangan tersebut, berpotensi memicu "debat kebijakan nyata" di pertemuan minggu depan. Hauser juga menyebut inflasi tak terkendali bisa menjadi "beracun" bagi ekonomi, meskipun pertumbuhan PDB Australia sebesar 2,6% pada kuartal IV/2025 menandakan perekonomian tetap solid—walaupun sudah mendekati batas kapasitas.
Ekspektasi Pasar yang Bergeser Tajam
Penetapan harga pasar (market pricing) kini menyiratkan 70% kemungkinan hike suku bunga pada 17 Maret, melonjak dari ekspektasi hold yang dominan sebelumnya. Pergeseran ini dipicu komentar Hauser dan lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah, yang kini menembus $85$85 per barel Brent. Meski ekspor energi Australia memberikan bantalan, fokus RBA pada data inflasi inti (trimmed mean) yang masih di atas target memperkuat sentimen hawkish.
Prediksi Analis Terkemuka
Mayoritas analis kini condong ke arah kenaikan suku bunga:
Westpac, NAB, Citi, Deutsche Bank: Prediksi hike pada Maret dan Mei 2026.
Bank of America, UBS, Capital Economics: Yakin hike terjadi minggu depan (17 Maret).
Konsensus ini kontras dengan sikap dovish RBA sebelumnya, di mana cash rate stabil di 4,35% sejak November 2025.
Dampak Potensial dan Dilema RBA
Kenaikan 25 bp berpotensi memperkuat Australian Dollar (AUD) sebagai tailwind, dengan AUD/USD yang saat ini menguji level 0,66. Namun, ini juga akan menambah beban pinjaman rumah tangga di tengah konsumsi ritel lemah (turun 0,3% MoM pada Februari). RBA menghadapi dilema klasik: menekan inflasi impor dari geopolitik versus menjaga pertumbuhan domestik. Pantau chart AUD/USD pasca-pertemuan untuk konfirmasi arah, terutama jika data CPI Maret menunjukkan tekanan lebih lanjut.







