mojtaba-khamenei-nyatakan-bahwa-sinyalkan-perang-berlanjut.jpgSumber Foto: suarasurabaya.net

Mojtaba Khamenei Nyatakan Bahwa Sinyalkan Perang Berlanjut

berita

radityo - octaNews

10 Mar 2026 13:25 WIB

Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang dikenal sebagai garis keras, sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Keputusan Majelis Ahli Iran ini diumumkan Minggu malam (8 Maret 2026) dan langsung menuai kritik dari Presiden AS Donald Trump. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Teheran tak akan mundur dari konflik Timur Tengah yang mengguncang pasar energi global.

Lonjakan Harga Minyak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Harga minyak mentah Brent melonjak drastis melewati US$100 per barel pada perdagangan Senin (9 Maret 2026) pagi di Singapura. Kenaikan mencapai 16% menjadi US$108 per barel pada pukul 15.00 waktu setempat—level tertinggi dalam hampir empat tahun. Brent sempat menyentuh hampir US$120 sebelum sedikit melandai setelah Financial Times melaporkan rencana menteri keuangan G-7 membahas pelepasan cadangan minyak bersama melalui Badan Energi Internasional (IEA).

Penutupan efektif Selat Hormuz memaksa produsen Teluk seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) memangkas produksi. Lonjakan ini menambah tekanan pada pemerintahan Trump, di mana harga bahan bakar AS sudah meroket sejak pekan lalu. Trump menyebut US$100 per barel sebagai "harga kecil untuk dibayar" yang "akan turun cepat setelah ancaman nuklir Iran musnah," katanya kepada Fox News.

Latar Belakang Pemimpin Baru dan Respons Internasional

Mojtaba (56 tahun) terpilih melalui "pemungutan suara menentukan" oleh Majelis Ahli, menggantikan ayahnya yang berkuasa selama 37 tahun sebelum tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Ia memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer-ekonomi utama Iran yang langsung menyatakan kesetiaan.

Trump mengaku "tidak senang" dengan pilihan ini, meski Mojtaba adalah kandidat unggulan. "Seperti ayahnya, ia konservatif dan akan jaga kontinuitas perang," ujar analis geoekonomi Bloomberg, Dina Esfandiary.

Eskalasi Militer: Serangan Silang dan Korban Jiwa

Konflik sempat mereda sejak akhir pekan, tetapi eskalasi berlanjut dengan AS-Israel membombardir Teheran dan wilayah barat-tengah Iran (Israel klaim 400 target pada Minggu). Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk, mengklaim bisa bertahan hingga enam bulan.

Arab Saudi memperkeras sikap setelah serangan Senin ke ladang minyak Shaybah Aramco dan Riyadh. Kementerian Luar Negeri Saudi memperingatkan bahwa eskalasi akan merugikan Iran paling parah, menandai kegagalan upaya diplomatik pekan lalu. Riyadh melaporkan dua warga tewas dekat pangkalan Prince Sultan, yang juga menjadi basis pasukan AS—total korban AS kini tujuh sejak 1 Maret.

Iran mengklaim 1.300 tewas akibat serangan AS-Israel. Serangan Israel ke depot bahan bakar Teheran pada Sabtu memicu peringatan Bulan Sabit Merah soal "hujan asam beracun" di kota berpenduduk 9,5 juta jiwa. Pejabat AS dan Senator Lindsey Graham mengkritik target itu sebagai bumerang, tapi Israel menganggapnya sah dan mengancam pembangkit listrik selanjutnya.

UEA, Kuwait, Bahrain, dan Saudi berhasil mengcegat serangan Iran. Kuwait menghancurkan tiga rudal balistik dan empat drone; Bahrain melaporkan fasilitas desalinasi rusak (pasokan air tetap aman), sambil membalas tuduhan Iran atas serangan serupa ke fasilitasnya.

AS memerintahkan evakuasi diplomat non-esensial dari Saudi demi keamanan. Trump mempertimbangkan operasi khusus untuk menyita stok uranium Iran yang mendekati grade bom nuklir: "Bisa kami lakukan nanti," katanya di Air Force One.

Konflik ini mengancam pasokan air minum Teluk yang bergantung pada desalinasi, serta pasar komoditas global—terutama emas dan energi

Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.