Harga emas spot diperdagangkan di wilayah positif mendekati $5.060 per ons selama sesi awal perdagangan Asia pada hari Kamis (12 Februari 2026). Logam mulia ini naik meskipun data ketenagakerjaan AS yang dirilis Rabu malam lebih kuat dari perkiraan. Sorotan pasar selanjutnya tertuju pada rilis laporan inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Januari pada Jumat besok, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga.
Analisis Fundamental
Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS menunjukkan penambahan 130.000 posisi pekerjaan baru pada Januari, hampir dua kali lipat dari perkiraan konsensus 70.000 dan jauh lebih baik dari revisi data Desember yang turun menjadi 48.000. Tingkat pengangguran AS merosot ke 4,3% dari 4,4%, mengalahkan ekspektasi, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja naik menjadi 62,5%, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS).
Data ketenagakerjaan yang solid ini menekan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (Fed). Pasar kini sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama pada Juli, mundur dari proyeksi sebelumnya di Juni. Dolar AS awalnya menguat setelah rilis data, menekan emas. Namun, kekhawatiran atas kegagalan negosiasi AS-Iran membatasi penurunan lebih lanjut, mendukung penguatan harga emas pagi ini. Petunjuk tambahan akan muncul dari data CPI Jumat.
Analisis Teknikal
Pada sesi Rabu, harga emas sempat menyentuh puncak $5.119 per ons sebelum terkoreksi akibat data NFP yang kuat. Di pembukaan Asia Kamis, harga turun ke kisaran $5.050, tetapi kini rebound mendekati $5.060.
Secara teknikal, emas sedang menguji resistance utama di $5.100, $5.142, dan $5.180. Sementara itu, koreksi tertahan di support $5.050, $5.029, hingga $4.985. Prediksi jangka pendek: harga bergerak sideways dalam rentang $5.030–$5.142, menanti katalisator CPI dan perkembangan negosiasi AS-Iran.







