Iran menegaskan tidak akan menghentikan program pengayaan uranium maupun menyerahkan cadangan uraniumnya, meskipun Amerika Serikat mendesak Teheran untuk secara signifikan mengurangi kapasitas pengayaan. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa pengayaan uranium merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari industri nuklir Iran. Ia juga menepis ancaman baru AS terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai isu yang bukan hal baru bagi Teheran. “Pengayaan adalah bagian integral dari proses nuklir dan kami sama sekali tidak akan meninggalkannya. Bagaimana mungkin memiliki industri nuklir tanpa memiliki titik awal dari proses tersebut?” ujar Eslami.
Negosiasi Selat Hormuz Berlanjut
Pernyataan tersebut muncul di tengah pertukaran proposal antara Iran dan AS untuk meredakan konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi global yang sangat strategis. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran dapat memberikan tanggapan dalam beberapa hari atas jawaban AS terhadap proposal Iran. Dalam usulan tersebut, Selat Hormuz disebut dapat dibuka kembali dalam tujuh hari apabila sejumlah persyaratan dipenuhi. Presiden Donald Trump menyatakan AS sedang melakukan pembicaraan yang produktif dengan Iran. Ia juga mengatakan Washington tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela Kongres AS pada November.
Isu Pengayaan Uranium
AS, Israel, dan sejumlah negara Barat menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan itu terutama didasarkan pada pengayaan uranium Iran hingga 60%, tingkat yang jauh melampaui kebutuhan pembangkit listrik sipil dan mendekati level sekitar 90% yang lazim dikaitkan dengan material untuk senjata nuklir. Iran membantah memiliki ambisi membuat senjata nuklir dan menegaskan program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai. Meski demikian, Teheran menyatakan bersedia membahas pengenceran sebagian cadangan uranium berpengayaan tinggi, tetapi menolak menghentikan pengayaan uranium secara permanen.







