1786423882858-8jgxa.jpgSumber Foto: stockphoto.com

Indeks Dolar Terkoreksi Di Bawah 100,00, Investor Menantikan Data CPI AS

Berita

radityo - octaNews

11 Agu 2026 11:51 WIB

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja dolar AS (Greenback) terhadap sekeranjang mata uang utama, kesulitan mempertahankan penguatan dari sesi sebelumnya. Pada perdagangan Asia, Selasa, indeks bergerak terbatas di sekitar level 99,75, nyaris tidak berubah dari penutupan sebelumnya. Pergerakan DXY yang cenderung datar mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi konsumen AS dan perkembangan terbaru terkait konflik AS–Iran. Data CPI AS untuk Juli dijadwalkan terbit pada Rabu, 12 Agustus, disusul data Indeks Harga Produsen atau PPI pada Kamis, 13 Agustus. Risiko Geopolitik Menopang DolarKetegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkatkan premi risiko geopolitik. Presiden AS Donald Trump menolak tuntutan Iran terkait kompensasi kerusakan akibat perang dan menyatakan bahwa Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan serta korban jiwa yang timbul di kawasan tersebut. Iran, di sisi lain, disebut menutup peluang negosiasi dengan pemerintahan Trump dalam waktu dekat. Teheran bahkan menyatakan bahwa pembicaraan baru kemungkinan tidak akan dilakukan hingga berakhirnya masa jabatan Trump pada 20 Januari 2029. Perkembangan tersebut mengurangi harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Bagi pasar keuangan, ketidakpastian ini dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, terutama ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.Hormuz dan Inflasi EnergiKetegangan AS–Iran juga meredupkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Gangguan lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb akibat aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran semakin memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi. Jika gangguan tersebut berlangsung lebih lama, harga minyak berpotensi tetap tinggi. Kenaikan harga energi dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi dan membuat pasar mempertahankan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga Federal Reserve pada 2026. Skenario tersebut akan mendukung imbal hasil Treasury AS dan berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi DXY. Sebaliknya, tercapainya kesepakatan yang menjamin pembukaan kembali jalur pelayaran dapat menurunkan premi risiko, menekan harga minyak, dan membatasi penguatan dolar.CPI Menjadi Katalis UtamaMeskipun memiliki dukungan dari risiko geopolitik dan potensi kenaikan harga energi, investor masih enggan mengambil posisi agresif sebelum memperoleh petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed.Konsensus pasar memperkirakan CPI AS Juli naik 0,1% secara bulanan, sementara inflasi tahunan diproyeksikan turun menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan sebelumnya. CPI lebih tinggi dari perkiraan: imbal hasil Treasury dan dolar berpotensi naik karena ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat.CPI sesuai atau lebih rendah dari perkiraan: tekanan terhadap The Fed berkurang, sehingga DXY berisiko melemah dan kembali bergerak di bawah tekanan.Berita geopolitik yang memburuk: dapat tetap menopang dolar sebagai aset safe haven, bahkan jika data inflasi tidak terlalu kuat.Dengan demikian, arah jangka pendek DXY akan ditentukan oleh interaksi antara data CPI, pergerakan harga minyak, imbal hasil Treasury, dan perkembangan diplomatik AS–Iran. Selama DXY bertahan di bawah level psikologis 100,00, indeks masih berada dalam fase konsolidasi; penembusan yang meyakinkan di atas level tersebut diperlukan untuk mengonfirmasi pemulihan bullish yang lebih kuat.
Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.