Emas kesulitan untuk melanjutkan kenaikan semalam dari level terendahnya sejak November 2025 karena risiko geopolitik yang berasal dari serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz mendukung Dolar AS. Sementara itu, data inflasi AS yang sebagian besar sesuai harapan meredakan spekulasi kenaikan suku bunga Fed tahun ini, membatasi USD dan membantu logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini bertahan di atas $4.000 selama sesi Asia.
Ulasan Analisa Fundamental
Harga emas spot berfluktuasi di sekitar angka $4.000 pada hari Kamis, terbatas pada
kisaran intraday yang ketat. info dari perang Iran, berita menunjukkan bahwa Israel menarik diri dari sebagian zona penyangganya di Lebanon selatan, menurut seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS. Kalender makroekonomi Amerika Serikat (AS) yang padat membawa sedikit kelegaan karena menunjukkan pertumbuhan tetap kuat sepanjang kuartal pertama tahun ini. Angka PDB tahunan direvisi naik menjadi 2,1% dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,6%. Di bidang inflasi, data menunjukkan bahwa Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) naik menjadi 4,1% YoY pada Mei
dari 3,8% pada April, sesuai perkiraan. Ini bukan kabar baik karena inflasi dua kali lipat dari target 2% Federal Reserve (Fed), tetapi setidaknya sesuai dengan ekspektasi. Indeks Harga PCE inti tahunan juga memenuhi ekspektasi, tercatat sebesar 3,4%. Sementara Initial Jobless Claims turun menjadi 215K.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Jumat, di pasar Asia, harga emas kembali tertekan ke Level $3990, emas mulai sideways. Beberapa analis memperingatkan index dolar (DXY) berpeluang ke 103, waspadai penurunan lebih lanjut yang bisa menguji support sekitar $3970/oz. Hawkish the Fed menekan emas, Resistance emas saat ini di $4042, $4076 hingga $4105. Sementara turunnya emas menguji support $3975/onz, $3950, $3920. Emas diperkirakan bergerak dalam range antara $4045 hingga $3925.







