Harga emas terkoreksi dalam perdagangan Asia pada Kamis (12 Maret 2026), kembali ke kisaran $5.165/ons. Penurunan ini dipicu oleh belum adanya tanda de-eskalasi dalam konflik AS-Israel dengan Iran, yang justru mengalirkan dana investor ke aset seperti minyak dan dolar AS. Meski begitu, harga emas batangan masih relatif tinggi di level $5.000-$5.200 per ons, didorong kekhawatiran geopolitik yang mempertahankan permintaan aset safe haven.
Ulasan Analisis Fundamental
Harga emas anjlok 0,4% menjadi $5.159,40/ons. Pelemahan ini terjadi karena ketegangan berkelanjutan antara AS, Israel, dan Iran mengalihkan perhatian pasar ke dolar AS serta minyak. Harga minyak dunia melonjak tajam pada dini hari Kamis setelah laporan media melaporkan dua kapal tanker internasional ditabrak di perairan dekat Irak. Kenaikan minyak ini memicu kekhawatiran inflasi jangka panjang, yang berpotensi membuat bank sentral seperti The Fed lebih agresif dalam kebijakan suku bunga—skenario yang merugikan emas. Selain itu, penguatan indeks Dolar AS (DXY) dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS semakin menekan emas, dengan proyeksi kini hanya satu kali penurunan suku bunga hingga akhir 2026. Dalam jangka pendek, harga emas tetap sensitif terhadap berita geopolitik.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada perdagangan Rabu, emas sempat rebound dan menguji resistance di $5.223/ons, tetapi kenaikan terbatas oleh lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS. Pergerakan harga saat ini moderat, dengan level kunci sebagai berikut:
Resistance: $5.200, $5.250, hingga $5.286.
Support: $5.125, $5.090, hingga $5.045.
Emas diprediksi bergerak sideways dalam rentang $5.100-$5.250 dalam trend moderat, kecuali ada katalis baru dari perkembangan geopolitik atau data inflasi.







