Harga emas spot anjlok 2,9% ke level $4.932,16 per ounce pada Kamis (13/2/2026), menyusul data penggajian AS yang melebihi ekspektasi. Pergerakan ini memicu sentimen risk-off di pasar saham, aliran dana ke obligasi, serta penguatan dolar AS yang menekan logam mulia. Perak spot turun lebih dalam 9,6% ke $76,26 per ounce. Meski sempat mendekati $5.000, emas berbalik turun setelah pernyataan Donald Trump yang meredakan ketegangan geopolitik.
Analisis Fundamental
Data nonfarm payrolls (NFP) Januari yang dirilis Rabu menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja AS di luar perkiraan, meredam spekulasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memprediksi 94,1% kemungkinan suku bunga stabil pada Maret dan 78% pada April, berdasarkan CME FedWatch Tool. Sentimen positif ini tertahan oleh kekhawatiran geopolitik AS-Iran, tetapi pernyataan Trump yang memberi waktu satu bulan untuk negosiasi membuka peluang hasil positif.
Para pelaku pasar kini bernapas lega dengan jeda tersebut, di tengah kekhawatiran agresi AS ke Iran. Hal ini memberikan ruang untuk aksi ambil untung pada emas. Pasar menanti data inflasi CPI AS Jumat ini; jika menunjukkan kenaikan, harga emas berpotensi tertekan mendekati $4.500.
Analisis Teknikal
Pada Kamis, emas sempat menyentuh $5.099 per ounce, tapi kenaikan terbatas oleh data NFP AS yang kuat. Di sesi Asia Jumat, harga melanjutkan penurunan menguji support $4.878 pasca pernyataan Trump. Resistance utama berada di $4.976, $5.000, dan $5.021, sementara support terdekat di $4.878, $4.780, hingga $4.745.
Emas diproyeksikan bergerak dalam rentang $4.980–$4.745 hari ini, dengan data CPI sebagai pemicu utama. Pantau level tersebut untuk peluang entry atau exit.







