Harga emas turun pada hari Kamis setelah mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua minggu pada sesi sebelumnya, karena dolar menguat di tengah melonjaknya harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Di sisi lain kondisi Timur tengah semakin memanas, dan belum ada tanda-tanda reda.
Ulasan Analisa Fundamental
Emas spot turun sekitar 2% ke US$4.049,56 per ounce setelah sempat naik sekitar 3% pada Selasa dan Rabu. Penurunan ini dipicu aksi ambil untung, meski kekhawatiran geopolitik dan lonjakan harga minyak masih menjaga volatilitas tetap tinggi. Emas masih punya dukungan di sekitar US$4.080, tetapi untuk melanjutkan tren bullish, harga perlu menembus resistance US$4.200. Lonjakan harga minyak akibat serangan Houthi dan ketegangan AS-Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi global. Harga Brent sempat menembus US$100 per barel, sementara lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun tajam, menambah risiko gangguan pasokan. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga meningkat untuk periode berikutnya. Kenaikan harga minyak cenderung menekan emas karena memperkuat dolar dan menjaga imbal hasil tetap tinggi. Naumun apakah issue tarif dagang yang baru dapat menguntungkan emas.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Jumat, di pasar Asia harga emas nampak koreksi karena harga minyak melambung di atas $90/barell. Sebelumnya harga emas rebound menguji resistance $4141. Penurunan emas menjumpai support di level $4040, sementara naiknya berpeluang menguji area $4080, $4101 hingga $4120. Emas turunnya tertahan di $4040/onz. Support emas menguji area $4027, $4000, $3982. Emas diperkirakan bergerak dalam range antara $4100 hingga $4000. Trend pasar netral.







