Harga emas gagal memanfaatkan sentimen risk-off pasar dan justru mencatat kerugian akibat kekhawatiran inflasi yang mendorong penguatan Dolar AS (USD). Faktor utama mencakup keputusan kebijakan Federal Reserve (Fed), Ringkasan Proyeksi Ekonomi (Dot Plot), serta perkembangan konflik Timur Tengah yang memengaruhi valuasi emas jangka pendek. Penguatan USD secara luas, ditambah berita geopolitik campur aduk, menjadi pemicu utama penurunan.
Analisis Fundamental
Akhir pekan lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara tetangga atas serangan balasan Iran pasca-serangan AS-Israel, sambil menegaskan Teheran tidak akan menyerang kecuali diprovokasi lebih dulu. Sementara itu, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak memutuskan mengurangi produksi minyak karena kekurangan ruang penyimpanan, dipicu ancaman Iran terhadap jalur kapal di Selat Hormuz.
Kekhawatiran ini memicu penurunan tajam emas mendekati level $2.500/onz$2.500/onz, seiring naiknya harga energi yang berpotensi memicu inflasi lebih lanjut. Para pelaku pasar kini fokus pada pertemuan dua hari Fed yang dimulai Selasa ini. Fed diprediksi mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, meski sinyal penurunan suku bunga (rate cut) semakin memudar.
Analisis Teknikal
Pada perdagangan Jumat lalu, emas tertekan penguatan dolar akibat hilangnya harapan rate cut. Agenda utama minggu ini adalah pertemuan Fed, yang berpotensi menentukan arah selanjutnya.
Harga emas menguji support kunci di $2.509/onz$2.509/onz tapi penurunan dibatasi permintaan safe-haven Pergerakan naik terbatas dengan resistance di $2.555$2.555, $2.593$2.593, hingga $2.630/onz$2.630/onz. Sementara support berada di $2.495$2.495, $2.458$2.458, hingga $2.398/onz$2.398/onz.
Secara keseluruhan, emas diproyeksikan bergerak dalam tren turun antara $2.525$2.525 hingga $2.460/onz$2.460/onz dalam jangka pendek.







