Dolar AS menguat pada Selasa dan bertahan di level tertinggi lebih dari satu tahun, seiring pasar mencerna perubahan sikap kebijakan moneter Federal Reserve pekan lalu. Investor juga beralih dari aset berisiko, termasuk saham teknologi global, ke mata uang yang dianggap lebih defensif. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,4% ke 101,39, level tertinggi sejak pertengahan Mei 2025.
Ekspektasi kenaikan suku bunga naik
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga seperempat poin pada rapat FOMC Juli melonjak menjadi lebih dari 36% dari 8,5% sepekan sebelumnya. Ekspektasi pasar juga meningkat untuk kenaikan pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Secara umum, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mendukung penguatan dolar. Repricing ini terjadi setelah The Fed pekan lalu merilis Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) yang lebih hawkish dari perkiraan. Proyeksi terbaru menunjukkan setidaknya setengah anggota FOMC kini memperkirakan masih ada kenaikan suku bunga tahun ini untuk merespons risiko inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak akibat perang Iran. Meski harga minyak telah turun dalam beberapa pekan terakhir, proyeksi kebijakan Fed kini bergeser menjadi setidaknya satu kenaikan suku bunga seperempat poin pada 2026, berbanding ekspektasi sebelumnya untuk setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga. “Sebelum pertemuan Fed, satu kenaikan suku bunga sudah diperhitungkan. Kenaikan pertama kini diperkirakan terjadi pada pertemuan Oktober, dengan kenaikan kedua sepenuhnya dihargakan pada Maret 2027,” kata Brent Schutte, kepala investasi di Northwestern Mutual Wealth Management. Ia menambahkan bahwa pengetatan ini belum tentu langsung menggagalkan ekonomi, tetapi tetap meningkatkan risiko perlambatan secara bertahap.
Sinyal dari pasar obligasi
Schutte juga menyoroti pasar obligasi sebagai sumber kewaspadaan baru. Kurva imbal hasil Treasury AS mulai mendatar dalam sepekan terakhir, yang secara historis sering mendahului inversi dan menandakan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter bisa menjadi terlalu ketat.
Selisih imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 2 tahun dan 10 tahun memang menyempit sejak keputusan Fed, karena imbal hasil 2 tahun naik sementara imbal hasil 10 tahun turun.
Data ekonomi AS tetap solid
Di tengah meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga, pasar juga mencermati data PMI AS untuk Juni dan revisi indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) kuartal pertama, yang menjadi ukuran inflasi favorit Fed. Menurut S&P Global, indeks output PMI komposit AS naik menjadi 52,2 pada Juni dari 51,5 pada Mei, tertinggi dalam lima bulan. PMI jasa naik ke 51,3 dari 50,7, melampaui perkiraan, sementara output manufaktur naik ke 57,7, laju tercepat sejak Juli 2021.
Isu nuklir Iran masih simpang siur
Pasar juga menyoroti berita yang saling bertentangan soal inspeksi nuklir Iran. Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tingkat tinggi dalam jangka panjang, dan ia mengklaim Selat Hormuz akan tetap terbuka tanpa blokade tambahan. Namun, media pemerintah Iran membantah adanya kesepakatan dengan IAEA atau pengaturan inspeksi apa pun. Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya menyebut pembicaraan di Swiss menghasilkan kesediaan Iran mengundang inspektur IAEA, tetapi klaim itu ditolak pihak Iran. Saat ditanya soal bantahan Iran, Trump menegaskan bahwa pihaknya telah menerima konfirmasi inspeksi dan mengancam akan membatalkan pertemuan jika Iran tidak jujur.







