Inflasi Inggris kembali menguat dan memberikan alasan yang semakin kuat bagi Bank of England (BoE) untuk menaikkan suku bunga. Namun, keputusan tersebut tidak sederhana karena sebagian besar tekanan harga berasal dari guncangan energi global yang tidak dapat dikendalikan langsung melalui kebijakan moneter.
Inflasi UK Naik ke 3,5%
Indeks Harga Konsumen (CPI) Inggris meningkat menjadi 3,5% secara tahunan pada September, naik dari 3,1% pada Agustus, menurut Kantor Statistik Nasional (ONS). Level ini merupakan tertinggi sejak Oktober 2025 dan melampaui perkiraan ekonom sebesar 3,4%. Kenaikan tersebut membuat inflasi semakin menjauh dari target 2% BoE. Sementara itu, Indeks Harga Konsumen termasuk biaya perumahan pemilik rumah (CPIH) naik menjadi 3,6% dari 3,3% pada bulan sebelumnya. Percepatan inflasi ini memperkuat ekspektasi bahwa BoE akan menaikkan suku bunga pada pertemuan November. Berdasarkan data LSEG yang dikutip CNBC, pasar memperkirakan peluang 98% BoE menaikkan suku bunga 25 basis poin, dari 3,75% menjadi 4%.
Energi Menjadi Pendorong Utama
Lonjakan harga bahan bakar menjadi pendorong uta
ma inflasi September. Harga bahan bakar kendaraan bermotor naik 29,8% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan sekitar 23% pada Agustus. Harga bensin rata-rata mencapai 169,5 pence per liter, tertinggi sejak Agustus 2022, sementara harga solar naik menjadi 192,5 pence per liter, tertinggi sejak Juli 2022. Akibatnya, inflasi transportasi meningkat menjadi 6,6% secara tahunan dari 4,6% pada Agustus. Lonjakan harga energi ini mencerminkan dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz—salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia.
Dilema Kebijakan BoE
Tantangan utama BoE adalah membedakan antara inflasi impor akibat energi dan inflasi domestik yang lebih berkelanjutan. Kenaikan suku bunga dapat menekan konsumsi, investasi, dan permintaan kredit, tetapi tidak dapat langsung meningkatkan produksi minyak global atau memulihkan pasokan energi yang terganggu oleh konflik geopolitik. Gubernur BoE Andrew Bailey mengakui keterbatasan tersebut dengan menyatakan bahwa suku bunga tidak dapat menghasilkan lebih banyak minyak atau gas. Namun, BoE tetap perlu waspada terhadap risiko efek putaran kedua. Jika perusahaan terus meneruskan biaya energi yang lebih tinggi kepada konsumen dan pekerja menuntut kenaikan upah untuk mempertahankan daya beli, guncangan energi sementara dapat berubah menjadi inflasi yang lebih persisten.
Tanda Tekanan Harga Meluas
Data terbaru menunjukkan tekanan harga mulai meluas ke luar sektor energi. Inflasi jasa naik menjadi 3,7% pada September dari 3,4% pada Agustus. Inflasi inti, yang mengecualikan komponen volatil seperti energi dan makanan, juga meningkat menjadi 2,8% dari 2,6% pada bulan sebelumnya. Kenaikan kedua indikator ini memperkuat alasan BoE untuk tetap berhati-hati terhadap risiko inflasi yang bertahan lebih lama. Sebaliknya, inflasi makanan dan minuman non-alkohol relatif terkendali di 1,3% secara tahunan. Harga makanan dan minuman bahkan turun 0,2% antara Agustus dan September, menunjukkan bahwa lonjakan inflasi terbaru masih didominasi oleh faktor energi.
Implikasi bagi Pasar
Ekspektasi kenaikan suku bunga BoE berpotensi mendukung poundsterling, karena imbal hasil aset berdenominasi pound menjadi lebih menarik. Namun, pengetatan moneter juga berisiko memperlambat konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi Inggris yang sudah menghadapi tekanan biaya energi. Bagi investor, arah poundsterling, obligasi pemerintah Inggris, dan saham Inggris akan sangat dipengaruhi oleh keputusan BoE pada November serta indikasi apakah inflasi inti dan jasa terus menguat. Jika efek putaran kedua semakin nyata, BoE kemungkinan akan lebih condong menaikkan suku bunga meskipun pertumbuhan ekonomi melemah. Inflasi Inggris yang naik ke 3,5% memberikan tekanan kuat bagi BoE untuk menaikkan suku bunga pada November. Namun, bank sentral menghadapi dilema: suku bunga dapat membantu mencegah inflasi menjadi persisten, tetapi tidak dapat menyelesaikan akar masalah berupa gangguan pasokan energi global.







