Harga emas mengalami koreksi mendekati level $2.035 per troy ounce selama sesi awal Asia pada hari Selasa (10 Februari 2026). Penurunan ini dipicu oleh perbaikan sentimen risiko global dan aksi ambil untung investor setelah kenaikan tajam sebelumnya. Pedagang kini bersiap menyambut data ekonomi AS krusial, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Januari yang dirilis hari ini dan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat besok. Selain itu, perkembangan pertemuan diplomatik AS-Iran pekan ini tetap menjadi sorotan pasar di tengah eskalasi ketegangan geopolitik.
Ulasan Analisis Fundamental
Logam mulia ini sempat menguat berkat pelemahan Dolar AS (USD), meski sentimen pasar secara keseluruhan tetap optimis. Penurunan USD bermula di sesi Asia, didorong penguatan Yen Jepang (JPY) pasca-pemilu lokal akhir pekan lalu. Perdana Menteri Sanae Takaichi memanggil pemilu dini bulan lalu untuk memperkuat mandat kebijakannya. Hasilnya mengejutkan: Partai Demokrat Liberal (LDP) meraup 316 dari 465 kursi di Majelis Rendah—mayoritas dua pertiga pertama sejak parlemen modern Jepang berdiri.
Namun, pasar keuangan kekurangan katalisator baru yang kuat, sehingga investor kini fokus pada data AS. NFP Januari dirilis hari ini pukul 20:30 WIB, diikuti CPI pada Jumat. Negosiasi AS-Iran juga berpotensi memicu volatilitas, karena kegagalan diplomasi bisa mendorong safe-haven demand untuk emas.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada perdagangan Senin lalu, harga emas menembus ke level tertinggi $2.086 per ons. Di sesi Asia Selasa ini, aksi ambil untung menekan harga hingga $1.987, sebelum rebound ringan ke $2.035. Ketidakpastian tetap tinggi menjelang data AS dan negosiasi AS-Iran.
Secara teknikal, emas baru saja menguji resistance kuat di $2.090, $2.112 (level Fibonacci 61,8%), hingga $2.142. Koreksi tertahan di support $1.987, $1.965, dan $1.920. Prediksi pergerakan hari ini berada dalam rentang $1.920–$2.142, dengan bias sideways kecuali ada katalisator besar.







