Harga emas spot anjlok 3.0% ke $3987,55/oz—terendah tiga bulan—karena lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi energi, sementara suasana risk-off membuat investor beralih ke obligasi pemerintah AS. Penurunan terjadi meskipun dolar AS melemah, menunjukkan tekanan utama berasal dari lonjakan minyak dan risk-off di Wall Street, bukan semata kekuatan dolar. Investor menjual saham teknologi dan komunikasi lalu beralih ke obligasi pemerintah AS.
Ulasan Analisa Fundamental
Brent naik 3,7% ke $112,89 per barel, level tertinggi lebih dari lima bulan, setelah serangan Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur energi dan bandara Arab Saudi. Ketegangan meningkat setelah Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusat di Dhahran, sementara AS dan Israel dilaporkan menyiapkan rencana serangan baru terhadap Iran pasca pemilu paruh waktu November. Para analis memperkirakan, emas sudah terkoreksi dan justru dapat menguat bila pasar saham teknologi atau sektor AI mengalami kejatuhan lebih dalam. Fokus pasar berikutnya adalah laporan triwulanan perusahaan AI besar dan keputusan suku bunga Fed pada Oktober; FOMC diperkirakan mempertahankan suku bunga, dengan perhatian pada konferensi pers Ketua Kevin Warsh. Namun, jika ketegangan Timur Tengah memperburuk gangguan pasokan minyak atau pasar saham AI semakin jatuh, permintaan lindung nilai terhadap emas dapat kembali meningkat.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Jumat, di pasar Asia emas tertekan menguji support $3986, kendati peluang rebound dapat terjadi, namun Nampak terbatas ke level $4047. Harga emas tertekan oleh kekhawatiran naiknya harga minyak setelah munculnya risiko melebarnya konflik Timur Tengah. Turunnya emas nampak menguji support di area $3986, $3960 hingga $3940. Sementara resistance emas menguji area $4025, $4047, $4067. Emas diperkirakan bergerak dalam range $4083 - $3986







