Harga emas (XAU/USD) melonjak hingga sekitar $5.047 pada sesi Asia Senin pagi ini (9 Februari 2026). Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran atas independensi Federal Reserve (Fed) yang terus menekan dolar AS, serta ketegangan geopolitik yang membara. Bank sentral China kembali membeli emas untuk bulan ke-15 berturut-turut, sementara negosiasi nuklir AS-Iran berpotensi memicu risiko baru jika gagal mencapai kesepakatan.
Ulasan Analisis Fundamental
Harga emas naik mendekati $5.047 selama sesi awal Asia Senin. Sorotan utama pekan ini adalah rilis laporan ketenagakerjaan AS Januari yang tertunda pada Rabu, yang bisa memengaruhi ekspektasi suku bunga Fed. Kekhawatiran atas independensi Fed terus melemahkan dolar AS, sehingga mendukung kenaikan komoditas berdenominasi USD seperti emas.
Bank Rakyat China (PBOC) memperpanjang tren pembelian emasnya pada Januari, dengan kepemilikan meningkat menjadi 74,19 juta ons troy murni per akhir bulan—naik dari 74,15 juta ons. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembicaraan nuklir Jumat lalu dengan AS sebagai "langkah maju". Donald Trump mengonfirmasi pertemuan lanjutan awal pekan ini, dengan peringatan tegas: "Jika tidak ada kesepakatan, konsekuensinya sangat berat." Pedagang global kini memantau ketat perkembangan ini, karena kegagalan negosiasi bisa memicu volatilitas pasar.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada perdagangan Jumat lalu, emas rebound secara teknikal hingga $4.971/oz. Di sesi Asia Senin, aksi beli lanjutan PBOC mendorong harga menguji resistance kuat di $5.047, $5.091, hingga $5.140 (level Fibonacci 61,8%). Sementara itu, potensi koreksi tertahan di support $4.965/oz, $4.936, dan $4.904.
Secara keseluruhan, emas diprediksi bergerak dalam rentang $4.885–$5.140 pekan ini, tergantung hasil negosiasi AS-Iran dan data AS.







