octa.co.id : Federal Reserve (Fed) dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pertama tahun ini pada 28 Januari 2026, dengan ekspektasi mempertahankan suku bunga tidak berubah. Ketua Fed Jerome Powell telah mensinyalkan sikap hati-hati (hawkish) setelah tiga kali pemangkasan berturut-turut sebesar 25 basis poin (bps), didukung oleh pasar tenaga kerja yang stabil—tanpa perekrutan atau pemecatan masif—serta inflasi yang mereda menjadi CPI 2,7% year-on-year (y/y) dan inti CPI 2,6% pada Desember 2025, meskipun masih di atas target 2%.
Fed tetap waspada karena inflasi belum mencapai target sejak 2021, ditambah booming ekonomi AS (GDPNow Atlanta Fed estimasi 5,4% untuk Q4 2025) dan dampak tarif perdagangan Trump yang dianggap sementara. Powell kemungkinan besar tidak akan mensinyalkan pelonggaran lebih cepat, tapi nada yang lebih dovish dari ekspektasi bisa menekan dolar AS yang sudah melemah akibat ancaman tarif baru Trump terhadap Greenland. Data ekonomi AS minggu depan mencakup pesanan barang tahan lama (Senin), kepercayaan konsumen (Selasa), pesanan pabrik (Kamis), serta PPI dan PMI Chicago (Jumat). Sorotan jangka panjang: Pengumuman Trump soal calon pengganti Powell pada Mei 2026, dengan kandidat seperti Kevin Hassett, Christopher Waller, Kevin Warsh, atau Rick Rieder—pasar saham menyukai Hassett, obligasi memfavoritkan Waller, sementara dolar menunggu kejelasan.
Bank Sentral Kanada (BoC) Berpotensi Hold Suku Bunga
Ekonomi Kanada menunjukkan stabilitas, dengan lapangan kerja meningkat sejak September dan pertumbuhan PDB pulih di kuartal ketiga. Data PDB bulanan berikutnya rilis Jumat ini. Inflasi menunjukkan gambaran campuran belakangan ini, sehingga BoC hampir pasti mempertahankan suku bunga saat rapat Rabu—beberapa jam sebelum Fed. Pasar berjangka memperkirakan 40% kemungkinan kenaikan suku bunga akhir tahun, tapi jika pejabat BoC menjaga opsi pemangkasan, dolar Kanada (CAD) berpotensi membalikkan kenaikannya baru-baru ini terhadap dolar AS (USD).
Akankah CPI Australia Mengonfirmasi Kenaikan Suku Bunga RBA?
Di Australia, prospek kenaikan suku bunga semakin kuat, dengan investor memperkirakan 58% kemungkinan Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan 25 bps pada rapat 3 Februari. Rilis CPI minggu depan jadi penentu utama: data triwulanan dan bulanan dirilis bersamaan Rabu. CPI utama naik ke 3,2% y/y di Q3 dan diproyeksi sedikit meningkat di Q4, mengingat lonjakan bulanan ke 3,8% y/y (Oktober) sebelum turun ke 3,4% (November). Kejutan negatif bisa menghantam dolar Australia (AUD) yang baru menguat seminggu terakhir gara-gara spekulasi hawkish RBA.
Data Zona Euro Dukung Euro di Tengah Geopolitik
Pelemahan ketegangan Eropa-Washington soal otonomi Greenland jadi kabar baik pasar, meski krisis belum selesai dengan diskusi kerangka kesepakatan masa depan yang baru dimulai. Euro (EUR) untung secara tak terduga dari 'sell USD' akibat berita geopolitik, tapi rentan terhadap eskalasi perdagangan UE-AS yang bisa dorong ECB potong suku bunga lagi tahun ini. Fokus data: Flash GDP Q4 Zona Euro (Jumat, estimasi 0,2% q/q, melambat dari 0,3% Q3), survei bisnis Ifo Jerman (Senin), dan CPI flash Januari (Jumat).
CPI Tokyo Jadi Fokus Pasca-Keputusan BoJ
Jepang akan rilis CPI Tokyo Januari Jumat ini, setelah CPI inti Desember turun ke 2,3% y/y—menandakan pendinginan harga akibat energi murah dan inflasi pangan mereda. Penurunan lanjutan bisa tekan yen (JPY), karena investor lebih khawatir utang Jepang yang membengkak ketimbang sikap hawkish Bank of Japan (BoJ). BoJ baru saja naikkan proyeksi inflasi, sinyal siap hike lagi, tapi yen ragu-ragu. Risiko intervensi forex oleh otoritas Jepang meningkat, jadi investor wajib waspada.







